September Ends

Agustus 2009

Aku bangun semenit lebih awal dari alarm Hape-ku. Aku menggeliat di tempat tidur. Tak juga ingin bangun. Hawa dingin kota Malang menusuk tulang. Belum genap aku seminggu disini, namun penyakit flu itu terus menerus menyerangku.

Akhirnya aku terbangun lagi. Alarm disampingku berbunyi. Kumatikan. Dan aku juga tak mau beranjak bangun. Ku amati jam yang jarumnya terus bergerak tanpa henti. Alarm itu berbunyi lagi. Alarm milik Mbak Dewi, teman sekamarku. Mau tak mau, aku akhirnya bagun juga. Tak enak jika berebut kamar mandi dengannya. Ia telah turun ke lantai bawah, ketika aku baru melepaskan kaos kaki tebal pemberian Ayah yang menghangatkanku sepanjang malam.

Aku menuju kamar mandi. Terdengar kecipak-kecipuk air dari kamar mandi sebelah. Pastilah Mbak Dewi. Wajah terasa segar mendapat basuhan air dingin yang menggetarkan tulang itu. sekembalinya ke kamar, ku lakukan sholat malam yang jarang-jarang aku lakukan. Khusyuk dalam renungan malam, berdoa pada sang pencipta yang Maha Segalanya.

Mbak Dewi mulai memakan makanan sahurnya, ia menawariku, aku bilang terima kasih. Aku menuju dapur mengambil piring dan sendok. Ketika aku beranjak naik tangga kudengar sayup-sayup suara musik dari kamar depan. Aku tak bisa memastikan darimana arah suara itu karena di depan terdapat tiga kamar. Aku pikir lagu itu berasal dari radio. Ku pikir mana ada radio yang aktif di pagi buta ini, kecuali saat bulan Ramadhan. Ku dengar lebih seksama. Alunan lagu GreenDay “Wake Me Up When September Ends” yang ku dengar syahdu. Meskipun aku tak begitu menyukai lagu ini. Namun, aku sedikit hapal lagu ini. Karena sering kudengar ketika aku di rumah. Adikku suka menyanyikannya sembari bermain komputer.

Di pagi buta ini, dengan hawa dingin, ku dengarkan samar-samar “Wake Me Up When September Ends” itu. Aku teringat Adam. Entah mengapa aku jadi sangat merindukan sosok lelaki kecil di keluarga kami.

Di kamar, ku cari frekuensi radio itu, 93.00 MHz. Disanalah ku temukan “Wake Me Up When September Ends”. Sembari menikmati santap sahurku aku juga mencermati, memahami, mengapa aku sangat merindukannya? Ia adalah sesosok remaja yang sedang mengalami masa pubertas. Ia tak banyak bicara, cuek luar biasa, hanya komputerlah teman baiknya. Aku juga tak acuh padanya. Karena jika kami akrab barang sebentar saja, tiba-tiba muncul konflik dan aku sakit hati padanya. Sebagai saudara kandung, kami memang tak akrab. Aku bahkan tak pernah menanyakan kabar padanya. Ia juga tak mempermasalahkan PR matematikanya padaku, juga pada siapapun di keluargaku.

Begitu cueknya dia, sampai-sampai ia tak ingat waktu. Ia tak bisa membedakan yang namanya waktu sekolah, belajar, makan, sholat, ataupun bermain di luar. Yang dia kerjakan hanyalah duduk di depan komputer, bereksperimen tentang desainnya sambil mendengarkan lagu keras-keras, menghabiskan uang dengan browsing internet dan ber-sms ria.

Ia tak tahu bagaimana caranya bersosialisasi dengan masyarakat. Sering kali kata-katanya terasa menyakitkan bagiku. Ibu juga sependapat. Namun, ia bukan lelaki yang jahat. Hanya saja ia tak tahu cara berkomunikasi dengan baik. Pekerjaannya hanya menghadapi komputer saja, sehingga ia tak punya waktu melakukan kegiatan di luar ruangan seperti bermain layang-layang, bersepeda, main bola, atau sekedar berbelanja di toko kelontong.

Maka dari itu tak heran ketika Ibu memeriksakannya ke dokter, ia mengalami jantung lemah. Sering merasa gemetaran dan tubuh yang lemas. Aku tahu ia akan mempunyai penyakit seperti itu karena pola makannya tidak teratur dan ia tidak pernah olahraga.

Kadang kala aku merasa iri padanya. Keluargaku amat menyanyanginya meskipun ia berbuat tidak baik. Setelah dimarahi, keesokan harinya dimaafkan, lusanya ia berbuat lagi, dimaafkan lagi, begitu seterusnya. Yang aku tahu, keberuntungannya itu didapatkan dari ia lahir, ia berjenis kelamin laki-laki. Satu-satunya lelaki diantara aku dan adik perempuanku. Keluarga kami berasal dari Jawa yang menganut adat-adat tertentu. Menurut primbon setempat, anak laki-laki diantara dua anak perempuan merupakan penerus keluarga, penerus kebaikan, pokoknya yang baik-baik ada di dalam lelaki itu. Sehingga sedari kecil ia terus dimanja, ia pun tumbuh di atas kasih sayang yang berlebihan oleh kedua orang tuaku. Dan aku sebagai anak perempuan, jujur saja merasa iri atas ketidak adilan itu.

Dulu, pernah suatu ketika kami berada di dalam konflik yang panas. Ia menindas adik perempuanku yang juga adik perempuannya. Aku tidak terima, dan aku melawannya. Orang tua kami yang memegang teguh adat Jawa, memaafkan kesalahannya meskipun mereka tahu bahwa itu perbuatan tidak baik. Aku amat marah, marah kepadanya. Seharusnya ia tahu kalau adat Jawa itu memihaknya dan ia harus merubah pola pikir dan kelakuannya menjadi lebih baik, menjadi penerus keluarga yang bermartabat dan berwibawa. Kenyataannya ia tidak begitu.

Jika aku diberi sebuah permohonan untuk meyelamatkan dunia dan keluargaku, aku berharap agar ia tak pernah dilahirkan di dunia ini.

Aku tak pernah mengerti apa yang berada di pikirannya. Hanya dari komputerlah aku tahu banyak tentang dirinya. Dibaik semua ketidakbaikannya, ada satu hal yang ku suka darinya, ia pintar menggambar. Seorang seniman barangkali begitulah menyebutnya. Sedari kecil ia suka sekali menggambar, menggambar apapun semaunya. Desain yang ia buat pun tak kalah dari desain seorang yang profesional.

Ia bercita-cita menjadi designer dan bekerja di luar negeri. Cita-cita yang tinggi menurutku. Cita-cita yang membutuhkan kerja keras dan doa yang setimpal. Tetapi semua cita-citanya tak akan pernah terwujudkan. Kenapa? Kau tahu kawan.. permohonanku terwujud. Kini ia tak lagi berada di dunia ini.

Jauh dalam lubuk hatiku, aku amat menyayanginya. Sesalku datang terlambat. Aku tak pernah tahu perasaannya. Apakah ia menyayangiku seperti aku menyayanginya? Yang jelas, aku tak akan mendapatkan jawaban lugas darinya. Bulan September telah berakhir, begitu pula GreenDay telah selesai menyanyikan lagu “Wake Me Up When September Ends”. Aku terdiam beberapa saat untuk mengenangnya. Aku merindukannya. Benar-benar merindukannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s