Ketika status dipertanyakan

Minggu 17 Mei 2009

Aku memandangnya seakan tak percaya atas apa yang baru diucapkannya.

“Benarkah itu?” tanyaku sekali lagi.

Ia hanya tersenyum. Sebuah senyuman yang tak dapat ku artikan seutuhnya.

“Kau tidak percaya?” ia bertanya balik padaku.

Alisku terangkat sebelah. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Aku tak habis pikir, pria sepertinya akan mengambil kesimpulan yang kelihatannya amat terburu-buru dalam hidupnya. Ku pandang ia sekali lagi. Tak ada yang salah dengan dirinya. Juga tak ada yang salah atas pilihannya. Namun, kenapa hal ini tidak dapat masuk ke dalam kepalaku secara rasional.

Coba bayangkan. Pria yang sehari-harinya bergaul dengan wanita manapun sesukanya, kini harus menghadapi detik-detik terakhir melepas masa lajangnya. Ia akan bertunangan. Sebuah status tepat persis di bawah tingkat yang disebut menikah. Bukan hal yang menarik memang, namun status itu tak dapat diremehkan keberadaannya. Status dimana pasangan mencoba bertahan, mencoba mengerti, mencoba menjalani kehidupan baru yang esok akan mereka lewati.

Ia mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas hitamnya. Ia memperkenalkan sesosok wanita rupawan yang berada di foto itu.

“Namanya Annisa”.

Ku pandang lekat-lekat sosok wanita yang akan mendampingi hidupnya. Wajah putih merona, menandakan si wanita itu menjaga keindahannya. Jilbab panjang menutupi tubuhnya, menandakan ia benar-benar seorang yang taat pada agamanya. Dan ia terlihat sangat pintar karena kacamata yang bertengger di atas hidungnya.

“Ini pilihanmu?” tanyaku seakan tak percaya.

“Ia pilihanku” jawabnya tegas.

Aku masih tak dapat berpikir tenang. Aku masih tidak percaya. Aku bingung. Sungguh. Apakah ini hanya sebuah permainan? Jika memang iya, aku tak mau dipermainkan olehnya.

Ku ingat dulu, ketika pertama kali ku mengenal sosok pria yang menjadi idaman semua wanita manapun. Wajah Indonesianya yang rupawan, tatapan mata tajam seakan-akan bisa menembus hati terdalam setiap wanita, senyuman yang bisa mengundang perhatian banyak orang, apalagi kata-kata indah yang keluar dari mulut manisnya membuat semua wanita akan bertekuk lutut dihadapannya.

Dian, Nina, Sonia, … dan wanita-wanita lainnya sudah pernah mendarat ke pelukan sang buaya. Merelakan segalanya demi dia. Merelakan harta, waktu, bahkan kehormatannya. Dan aku tidak tahu, bagaimana nasib wanita-wanita itu sekarang. Jika mereka tahu si buaya ini akan bertunangan dengan wanita alim yang belum lama dikenalnya, aku yakin wanita-wanita itu akan tertawa kebingungan selamanya.  Aku yakin, wanita dalam foto ini adalah wanita ke seribu yang berada di hati pria ini.

“Kau jangan berpikiran macam-macam tentang dia. Dia wanita baik-baik”, katanya.

“Aku tahu dia wanita baik-baik. Tapi aku tak yakin bahwa pasangannya adalah pria baik-baik”.

Ia tersenyum simpul, “Mengapa kau berkesimpulan seperti itu? Aku sudah berubah”.

“Terserah apa mau mu. Aku tak percaya”.

Ku taruh foto itu di meja. Aku bangkit dari tempat dudukku. Pria ini meraih tanganku, ia tahu bahwa aku akan meninggalkannya sendirian di ruang tamu.

“Kumohon…”, suaranya memelas.

Ku lepaskan paksa tanganku darinya. Aku melangkah menjauh darinya. Aku terdiam ketika ia bangkit dari duduknya dan menghampiriku, memelukku dari belakang.

Ku dengar suaranya sayup-sayup. “Kumohon, restuilah aku dengannya, Kak”.

Tanggannya terasa dingin memeluk tubuhku. Pundakku basah oleh air matanya.  Aku tak dapat bicara. Aku tak tau harus berkata apa. Aku tak mengerti dengan pikiran pria ini. Haruskah ku percaya dengan kata-katanya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s