Arrggghhhh … kulitku !!!

Rabu 20 Mei 2009

Aku terbangun tiba-tida di dini hari ini. Aku merasakan rasa yang tak enak pada badanku. Aku merasa amat sangat gatal sekali.

Arrggghhhh… kulitku !!!

Ku pandangi lekat-lekat kulit di kedua lengan tanganku yang kemerahan bentol-bentol seperti gigitan nyamuk. Parahnya, seluruh badanku sama seperti itu. Arrggghhhh… kulitku !!! kulitku yang hitam manis. Kuliku yang hitam eksotik, kini berubah menjadi bentol-bentol merah tak karuan.  Apakah ini hanya mimpi? Tidak. Ini kenyataan, bung. Aku merasakan gatalnya. Sangat aku rasakan.

Tadi sore mungkin adalah awal permulaan bagaimana penyakit ini bisa terjadi. Ketika aku sedang asyik belajar kalkulus. Aku merasakan gatal-gatal di bagian leher, pundak, dan punggung. Aku pikir hal ini biasa. Mungkin saja badanku masih kotor meskipun aku baru saja mandi. Ataukah gara-gara aku belajar kalkulus dan badanku amat membencinya, sehingga bereaksi terhadap kulitku?? … kesimpulan yang aneh.

Aku sudah tidak kuat. Aku sudah tidak tahan menghadapi gatalnya. Aku butuh obat. Obat yang bisa mengobati sakit ini dalam sekejab. Tetapi obat canggih manapun tak akan bisa ku dapatkan , ingat … ini masih tengah malam, tak akan ada toko yang menjualnya. Apalagi disini adalah daerah kos-kosan yang padat penduduk. Pagi hari ramai seperti pasar, malam hari tenang bagai kuburan.

Arrggghhhh… kulitku !!!

Aku harus meminta bantuan. Bantuan pada siapa saja yang mau membantu. Tetapi di tengah malam seperti ini siapalah yang mau membantu. Mbak kunti saja belum tentu mau membantu meski ku tawarkan rebonding gratis untuknya.

Ku ambil handphone. Ku coba menghubungi seseorang. Kulihat pulsa yang tersedia. Tinggal 1340. Bodoh. Kenapa tadi siang aku tidak membeli pulsa? Percuma saja meratapi kebodohan sekarang.

Ternyata aku berhasil menghubungi walaupun sekedar misscall. Ku tambahkan sms gawat darurat meskipun kejadian ini tidak begitu penting. Dan hapeku berbunyi,

“Halo, nak …,”.

Akhirnya Ibu meneleponku balik. Seorang yang selalu dapat ku andalkan setiap saat. Aku sangat bersyukur.

Ku ceritakan panjang lebar mengenai apa yang terjadi padaku saat ini. Beliau pun menanyakan tentang makanan apa yang ku makan sehari penuh tadi?  Sepengetahuanku, aku tidak makan yang aneh-aneh hari ini. Makan malam tahu telor, siangnya nasi pecel. Aku sudah terbiasa memakan makanan itu, tidak mungkin aku … (tidak tawar). Dan makanan itu juga merupakan makanan yang telah terdaftar pada deretan menu makananku selama ini. Lalu apa yang menyebabkannya? Oh iya. Aku baru ingat. Tadi pagi aku memakan sesuatu yang tak pernah aku makan akhir-akhir ini, yaitu bubur ayam. What? Aku tidak mengerti bagaimana bisa bubur ayam yang menyebabkannya? Lagi pula bubur ayam ini mahal, jelas higienis dan bermanfaat tinggi. Oh… otakku tak dapat menerimanya.

Aku pikir, semua itu disebabkan karena handuk. Mungkin saja handuk yang ku pakai sudah terinfeksi kuman-kuman beracun yang terbawa angin, karena tadi siang aku menjemurnya di luar. Atau mungkin karena air yang ku pakai mandi? Secara aku adalah orang terakhir yang menggunakan fasilitas kamar mandi itu. Jika memang iya, kenapa hanya aku saja? Bukankah orang lain juga menggunakan air yang sama? Anehnya, badanku saja yang gatal-gatal. Bagian perut dan muka (juga bagian vital) tidak. Aneh sekali, bukan? Teorema handuk dan air yang tercemar pun tidak dapat dibuktikan.

Apakah karena bajuku kurang steril? Ataukah aku memang tidak cocok berada di lingkungan ini? Ah… mengarang saja diriku. Aku sudah hampir setahun berada disini.

Ibu menyarankan agar aku meminta bantuan ibu kos. Meminta obat apa yang cocok untuk meredakan gatal-gatal ini. Percaya atau tidak ibu kosku adalah orang yang tau mengenai obat-obatan. Meskipun beliau bukan lulusan apoteker, namun setiap aku bertanya tentang obat apa saja yang manjur beliau pasti menemukan jawaban yang tepat. Begitulah, … ibu kosku memang pintar.

Kemudian, aku mengikuti saran ibu. Di saat hampir tengah malam, dengan lancangnya aku membangunkan bapak kos yang tertidur lelap. Dengan televisi yang masih menyala, bapak kos akhirnya terbangun dan segera mencari obat yang cocok untuk kulit yang memerah ini.

Sesuai dengan rekomendasi ibu, lotion berwarna pink itu beliau berikan padaku. Dan dengan sesegera mungkin mengusapkannya rata di seluruh permukaan badanku. Yang pastinya tidak dihadapan bapak kos. Haha … kau jangan bercanda.

Namun, aku masih tak habis pikir, apa yang menyebabkan semua ini? Apa sumbernya? Siapa yang harus disalahkan? Ah… kulitku. Ia tak mau berkata apa yang sesungguhnya terjadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s